Nabi Musa tak
bisa dipisahkan dari Laut Merah. Salah satu mukzijat yang diberikan Allah SWT
kepada Musa adalah kemampuan untuk membelah Laut Merah sehingga utusan Allah
itu bisa melintasinya bersama para pengikutnya. Nabi Musa menyeberangi laut
merah ini diceritakan dalam Kitab Keluaran 13:17-14:29 . Kisah ini juga
disebutkan dalam Al-Quran Surah: Al-Shu'ara ayat, 60-67. Ketika itu Bani Israel
meninggalkan Mesir dan mengembara ke padang gurun .
Angin bertiup kencang sepanjang malam. Lalu air laut merah pun tersibak ke kiri dan ke kanan, membentuk jalan di antara dinding air yang memberi kesempatan bagi Musa dan pengikutnya melarikan diri. Ketika tentara Firaun mengejar mereka, tiba-tiba dinding air laut runtuh. Maka tenggelam lah mereka.
Ribuan tahun sesudah kejadian itu, kini para ilmuwan meyakini bahwa keajaiban
itu merupakan fenomena alam. Para ilmuwan dari National Centre for Atmosphere
Research di Calorado Amerika Serikat, sebagaimana ditulis Daily Mail, Rabu 22
September 2010, menemukan bahwa air laut yang tersibak itu akibat gerakan
angin
Allah
memerintahkan Nabi Musa dan Bani Israel keluar dari perhambaan di Mesir dan
pergi ke tanah Kanaan / Palestin yang telah dijanjikan kepada mereka . Allah
memerintahkan mereka keluar pada waktu malam . Mulanya Firaun membenarkan
mereka keluar kerana kumpulan ini kecil sahaja. Sungguhpun begitu Bani Israel
mendatangkan kemarahan Firaun.
Sebagaimana
dijelaskan dalam Al-Quran Surah: Al-Shu'ara ayat, 60-67 yang artinya :
“Maka
Fir´aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit.
Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut
Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul".Musa menjawab:
"Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak
Dia akan memberi petunjuk kepadaku". Lalu Kami wahyukan kepada Musa:
"Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu
dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami
dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang
besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat)
dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman”
Kemudian
diikisahkan juga dalam kitab suci perjanjian lama bahwa Nabi Musa dan
pengikutnya dari Bani Israil pernah terjebak di antara dua kematian. Maju
dihadang laut merah, diam atau mundur bakal dihabisi serdadu Firaun. Lalu Tuhan
pun memberi mujizat kepada Musa, mukjizat yang diyakini tiga agama.
Angin bertiup kencang sepanjang malam. Lalu air laut merah pun tersibak ke kiri dan ke kanan, membentuk jalan di antara dinding air yang memberi kesempatan bagi Musa dan pengikutnya melarikan diri. Ketika tentara Firaun mengejar mereka, tiba-tiba dinding air laut runtuh. Maka tenggelam lah mereka.
Dalam sebuah simulasi komputer yang dilakukan para ahli di Colorado itu diketahui bahwa angin timur yang berhembus dengan sangat kuat selama 12 jam dalam semalam, bisa menyibak air laut, menciptakan sebuah jalan tanah sebagaimana digambarkan dalam kisah 'Eksodus'.
Sedikit berbeda dengan deskripsi lokasi di kitab suci, para ilmuwan itu meyakini bahwa lokasi keajaiban bukan di Laut Merah, melainkan di lokasi di dekatnya -- di delta Sungai Nil, di mana sebuah sungai kuno menyatu dengan laguna.
Dari penelitian di lapangan, peta lokasi dan percobaan di laboratorium, para ilmuwan itu menemukan bahwa angin timur dengan kecepatan 63 mph yang bertiup dalam waktu 12 jam akan mendorong air -- baik di danau maupun aliran air. Proses ini akan menciptakan jalan tanah lumpur sepanjang dua mil dan lebar tiga mil selama empat jam.
Saat kecepatan angin turun, air akan kembali ke posisi awal -- mirip fenomena pasang surut. Dalam jurnal Public Library of Science ONE, para ahli menguraikan bahwa siapapun yang terdampar dalam lumpur itusesudah angin melemah akan berisiko tenggelam.
"Orang-orang selalu terpesona dengan kisah 'Eksodus' Musa, meyakini bahwa itu adalah fakta sejarah. Apa yang ditunjukan dalam penelitian ini adalah bahwa deskripsi membelahnya lautan, memang masuk akal dalam hukum fiusika." kata Ketua tim peneliti, Carl Drews.
"Membelahnya laut bisa dipahami melalui dinamika fluida. Angin menggerakkan air dengan cara yang sesuai dengan hukum fisika -- menciptakan jalan aman dengan dinding air di dua sisi -- lalu air itu runtuh dan menenggelamkan jalan itu." Simulasi komputer juga menunjukkan tanah kering bisa terlihat di dua lokasi terdekat selama badai angin.
Temuan ilmuwan tidak mirip dengan penjelasan di Perjanjian Lama. Sesuai fisika, terpisah satu sama lain, melainkan, salah satu bagian air terdorong ke sisi berlawanan.
Sebelumnya, sejumlah teori ditawarkan untuk menjelaskan fenomena terbelahnya Laut Merah secara ilmiah. Salah satunya, tsunami -- yang bisa memundurkan air laut dan kemudian memajukannya dengan cepat. Namun teori tsunami, tidak sesuai dengan penjelasan dalam kitab suci -- bahwa membelahnya laut terjadi secara gradual, dan melibatkan angin. (disalin dari berbagai sumber)

0 komentar:
Posting Komentar