Namanya Nabil, seorang muslim Amerika keturunan Arab yang sudah hidup serta tinggal di Amerika Serikat (AS) sejak kakek moyangnya. Sebagai sisi dari masyarakat minoritas, Nabil rasakan diskriminasi masih diberikan oleh kelompok mayoritas di AS pada umat Muslim di sana. “Saya dulu pernah bekerja sebagai pramusaji satu restoran milik seorang kulit putih Amerika, ” kisahnya.
“Suatu hari, di hari pertama saya masuk kerja, saya meminta izinnya untuk menggunakan sedikit waktu untuk melaksanakan shalat. Saya jelaskan kalau dalam agama saya, seorang Muslim disarankan shalat lima kali dalam sehari semalam. Serta karena saya bekerja di restorannya sebanyak 18 jam secara bergilir, jadi ada tiga saat shalat yang harus saya laksanakan selama jam kerja. ”
“Oke, ” katanya. “Karena anda seorang muslim, saya memberikan izin kepadamu untuk melaksanakan shalat di sini. Anda perlu saat berapa jam? ”
“Hanya kira-kira lima menit untuk setiap shalat, ” kata Nabil pada bosnya.
Untuk beberapa hari Nabil dapat melaksanakan shalat selama tiga saat dengan lancar. Meninggalkan
pekerjaannya sebentar, serta menghadap Tuhannya dengan khusyuk. Tapi itu hanya berlangsung beberapa hari, setelah bebrapa rekan kerjanya memprotes pada bosnya, Nabil juga diberhentikan.
“Bos memanggil saya, dan berkata, ‘Kamu saya berhentikan hari ini karena teman-teman anda disini menghendakinya. ’ Ya, bebrapa rekan saya tidak suka kepada saya disebabkan saya Muslim dan melaksanakan shalat, ” ungkap Nabil sedih.
Nabil akhirnya mencari pekerjaan lain, yaitu sebagai supir taksi.
“Sebagian besar Muslim di Amerika bekerja sebagai supir taksi, karena kita dengan mudah dapat segera berhenti untuk shalat di Islamic Center, dan kembali bekerja setelah shalat usai ditunaikan. ”
“Pekerjaan dapat berganti, bila anda merasa tidak cocok, tapi shalat harus anda laksanakan bila anda seorang Muslim, “ demikian Nabil mengakhiri ceritanya.
Seorang muslim Amerika yang hidup serta tinggal di antara mayoritas warga non muslim. Bagaimana keteguhan atas prinsip keyakinannya, tergambar terang dari pilihannya untuk jadi supir taksi agar dapat melaksanakan shalat lima saat, tanpa harus menimbulkan kecemburuan dan ketakutan orang lain.
Sekarang, bagaimana dengan muslim Indonesia, yang musholla ada hampir di semuanya gedung perkantoran, mesjid berdiri di banyak kampung, dan negara menjamin kebebasan melaksanakan ibadah agama sehingga kita dapat melaksanakan kewajiban dengan mudah? Kisah Nabil ini bisa menjadi cerminan dan cambuk untuk kita untuk beribadah lebih baik lagi

0 komentar:
Posting Komentar