Selasa, 19 Juli 2016

[Bagi Yang Sedang Galau] 5 Cara Menghilangkan Perasaan Galau

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Galau merupakan perasaan tidak tenang di dalam hati dan pikiran manusia, perasaan tidak tenang ini bisa disebabkan oleh msalah tertentu misalnya ketegangan saat harus menghadapi sesuatu dan beban pikiran, ketika seseorang memiliki masalah tersebut biasanya akan berujung pada kegalauan. ketika seseorang harus menghadapi sesuatu yang baru / ia belum siap, biasanya pikiran akan dipenuhi dengan rencana-rencana dan pertimbangan antara kesuksesan dan kegagalan, sehingga persaan akan dihantui oleh ketakutan akan kegagalan., Hal ini yang menyebabkan perasaan gelisah dan pikiran tidak tenang sehingga menyebabkan kegalauan. Beban pikiran, ketika seseorang didalam pikirannya dibebani masalah-masalah yang belum terpecahkan, maka disitu akan timbul kekawatiran yang menyebabkan perasaannya akan menjadi gelisah sehingga menyebabkan kegalauan yang bisa juga dibilang stress.
Pada artikel kali ini akan diampaikan cara sebagian kecil dari sekian cara dan kiat agar hidup kita tenang dan tidak galau sepanjang hari. Yang disalin dari (e-book ibnumajah.com oleh Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman  حفظه الله ) Di antaranya:
Pertama: Membaca al-Qur'an dengan Tadabur
Hikmah diturunkannya al-Qur'an agar manusia dapat merenungi ayat-ayatnya serta mengambil pelajaran darinya. Allah رحمه الله berfirman  :
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran”. (QS Shad [38]: 29)

[baca juga : 
Ketahuilah, al-Qur'an adalah petunjuk kebaikan bagi kehidupan manusia. Jika kita menginginkan hati yang terang, bening sebening kaca, dan jiwa yang bersih maka jangan mencari obat ke mana-mana. Al-Qur'an adalah solusinya. Allah عزّوجلّ berfirman yang artinya:
"Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. (QS al-Isra' [17]: 9)
Ketenteraman adalah dengan membaca al-Qur'an, merenungi maknanya, bukan dengan mendengarkan lagu-lagu dan semisalnya. Perhatikan firman Allah عزّوجلّ berikut yang artinya:
Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS al-Ra'd [13]: 28)
Al-Imam Ibn al-Qayyim رحمه الله mengatakan, "Hati tidak akan tenang kecuali dengan iman dan keyakinan. Tidak ada jalan untuk menggapai iman dan keyakinan kecuali dengan al-Qur'an. Karena tenang dan tenteramnya hati termasuk keyakinannya terhadap al-Qur'an. Dan guncangnya hati pertanda keraguannya. Dengan al-Qur'an dapat tergapai keyakinan dan tertolak keraguan, sangkaan, dan kebimbangan. Maka tidak akan tenang hati seorang muslim kecuali dengan al-Qur'an."
Maka mulai detik ini, renungi dan pahamilah al-Qur'an, kaji lebih dalam lagi jangan engkau berpaling darinya, karena Allah عزّوجلّ berfirman yang artinya:
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta”. (QS Thaha [20]: 124)
Kedua: Shalat Tahajud
Shalat Tahajud adalah shalat yang dikerjakan pada malam hari setelah sebelumnya tidur terlebih dahulu.
Al-Imam as-Safarini رحمه الله mengatakan, "Orang yang shalat Tahajud adalah orang yang shalat di waktu malam. Para ulama kita mengatakan, 'Shalat Tahajud itu tidak dikerjakan kecuali setelah tidur terlebih dahulu. Sedangkan shalat malam lebih umum, waktunya sejak tenggelamnya matahari dan terbitnya fajar. la adalah shalat sunnah yang sangat dianjurkan.'"
Allah عزّوجلّ sering memuji para hamba yang shalih karena mereka mengerjakan shalat Malam dan Tahajud. Allah عزّوجلّ berfirman yang mana artinya:
"Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. (QS adz-Dzariyat [51]: 17-18)
Sahabat yang mulia Ibn Abbas رضي الله عنهما mengatakan, "Waktu malam tidak berlalu begitu saja bagi mereka, melainkan mereka selalu mengerjakan shalat Malam walaupun hanya sedikit."
Allah عزّوجلّ juga memuji orang yang mengerjakan shalat Malam dalam firman-Nya:
Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdo'a kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.(QS as-Sajdah [32]: 16-17)
Al-Imam Ibn Katsir رحمه الله berkata, "Yaitu mereka mengerjakan shalat malam, meninggalkan tidur, dan meninggalkan berbaring di atas kasur yang empuk."
Anas ibn Malik رضي الله عنه berkata, "Sungguh seorang tidak dapat mengerjakan shalat Malam dan puasa di siang hari karena sebab berbohong yang dia kerjakan."
Ketahuilah, shalat malam yang dikerjakan dengan khusyuk, menyendiri, dan memaknai kandungan bacaan al-Qur'an dan do'a yang dibaca akan membawa ketenangan hati, perasaan tenteram, dan jiwa yang baik. Permasalahan dunia yang sulit akan terasa ringan jika kita mengerjakan shalat. Karena shalat adalah penghibur dan penyejuk hati. Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Bangkitlah, hai Bilal, hiburlah kami dengan shalat."
Bahkan, Nabi صلى الله عليه وسلم setiap kali dirundung masalah, beliau melaksanakan shalat. Sahabat yang mulia Hudzaifah رضي الله عنه berkata:
"Adalah Nabi صلى الله عليه وسلم apabila dirundung masalah maka beliau mengerjakan shalat."
Hal itu tiada lain karena shalat adalah komunikasi antara hamba dengan Rabbnya. Berdiri di hadapan Allah dengan shalat memiliki pengaruh kuat dalam memperbaiki jiwa orang yang shalat bahkan seluruh manusia. Karena, shalat adalah penyejuk mata. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Telah dijadikan kesejukan mataku di dalam shalat."
Al-Imam Ibn al-Qayyim رحمه الله berkata, "Ketahuilah, tidak ada keraguan bahwa shalat adalah penyejuk mata orang-orang yang tercinta, kelezatan jiwa-jiwa orang yang bertauhid, tamannya orang-orang yang beribadah, kelezatan hati orang yang khusyuk. la adalah rahmat Allah yang dihadiahkan kepada hamba-Nya yang beriman."
Beliau juga berkata, "Sesungguhnya shalat itu bisa menghapus kejelekan bagi orang yang menunaikan hak-hak shalat, dia menyempurnakan kekhusyukan shalat. Dia berdiri di hadapan Allah dengan hati yang hadir dan berpikir. Orang yang semacam ini jika selesai shalat akan menjumpai keringanan dalam shalat, menjumpai semangat dan kelapangan hati setelah shalat."
Ketiga: Berteman dengan Teman yang Shalih
Allah memerintahkan kepada kita untuk bersama-sama orang yang baik dan shalih. Allah عزّوجلّ berfirman yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS at-Taubah [9]: 119)
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang ber-taqwa. (QS az-Zukhruf [43]: 67)
Teman punya pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk kepribadian, sifat dalam diri seorang muslim. Sebab itu, tidak mengherankan bila Rasulullah صلى الله عليه وسلم sudah memberikan peringatan sejak jauh-jauh hari agar berteman dengan teman yang baik dan menjauhi teman yang jelek. Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Permisalan teman yang shalih dan teman yang jelek, bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi, bisa jadi dia akan memberikan minyak wanginya, atau engkau membeli darinya atau engkau mendapatkan wanginya. Adapun pandai besi, dia bisa membakar bajumu atau engkau mendapati baunya yang tidak enak."
Al-Imam Ibn al-Mubarak رحمه الله mengatakan, "Wajib bagi orang yang berakal untuk tidak meremehkan tiga golongan: ulama, para pemimpin, dan teman-teman. Karena, sesungguhnya orang yang meremehkan ulama akan hilang akhiratnya, barangsiapa yang meremehkan pemimpin akan hilang dunianya, dan barangsiapa yang meremehkan teman-teman maka akan hilang wibawa dan kehormatannya."
Keempat: P  u  a  s  a
Puasa akan menjernihkan hati dan pikiran. Ini termasuk hikmah yang jarang diketahui manusia. Dengan meninggalkan berbagai kenikmatan dan keinginan jiwa ketika berpuasa, akan membuat pikiran dan hati menjadi jernih dan bersih. Hati dan pikirannya akan terpusat untuk dzikir dan beribadah. Karena, banyak makan dan minum akan membuat hati menjadi lalai dan sibuk, bahkan tidak mustahil membuat hati menjadi keras dan gersang.
Ibrahim ibn Adham berkata, "Barangsiapa yang mampu menahan perutnya, maka dia akan mampu menjaga agamanya. Barangsiapa yang dapat menguasai rasa lapar, dia akan meraih akhlak yang mulia. Karena, maksiat kepada Allah sangat jauh bagi orang yang lapar dan sangat dekat bagi yang kenyang. Kenyang itu dapat mematikan hati, karena kenyang dia akan banyak senang, gembira, dan tertawa."
Puasa yang hakiki adalah puasa yang mencegah pelakunya dari perbuatan maksiat, mencegah akal sehat dari kungkungan hawa nafsu. Jika semua ini dilakukan, maka sangat dipastikan orang yang berpuasa hidupnya akan tenang, tidak gundah gulana, karena kemaksiatan tidak membawa pelakunya kecuali kebingungan, keterikatan hati dan lain sebagainya.
Al-Hafizh Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah رحمه الله berkata, "Orang berpuasa yang sebenarnya adalah orang yang menahan anggota badannya dari segala dosa, lisannya dari dusta, perutnya dari makanan, minuman, dan farjinya dari jimak. Bila berbicara, dia tidak mengeluarkan perkataan yang menodai puasanya. Jika berbuat, dia tidak melakukan hal yang dapat merusak puasanya. Sehingga ucapannya yang keluar adalah bermanfaat dan balk. Demikian pula amal perbuatannya, ibarat wewangian yang dicium baunya oleh kawan duduknya. Seperti itu juga orang yang puasa, kawan duduknya mengambil manfaat dan merasa aman dari kedustaan, kemaksiatan, dan kezalimannya. Inilah hakikat puasa sebenarnya, bukan hanya sekadar menahan diri dari makanan dan minuman."
Ibn al-Jauzi رحمه الله berkata, "Ketahuilah wahai saudaraku dan orang yang mau menerima nasihatku, bahwasanya dosa itu punya pengaruh yang jelek, rasa pahitnya melebihi rasa manisnya dengan berlipat-lipat."
Puasa Ramadhan termasuk salah satu rukun Islam. Secara umum, tujuan disyari'atkannya puasa adalah agar seseorang menjadi hamba yang bertaqwa. Allah عزّوجلّ menegaskan:
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS al-Baqarah [2]: 183)
Kelima: Dzikrullah
Dzikir bagi hati ibarat air bagi ikan, maka bagaimanakah keadaan ikan jika dipisahkan dari air?
Dzikir dapat membersihkan jiwa dari kelalaian dan kealpaan, obat dari kerasnya hati. Suatu ketika, ada yang mengadu kepada al-Imam al-Hasan al-Bashri رحمه الله, "Wahai Abu Sa'id, hatiku keras, bagaimana obatnya?" Beliau menjawab, "Obatilah dengan berdzikir!"
Pada kesempatan yang lain, al-Imam al-Hasan al-Bashri رحمه الله pernah mengatakan, "Carilah kelezatan dalam tiga perkara: di dalam shalat, dzikir, dan membaca al-Qur'an. Jika kalian mendapati ... Jika tidak maka ketahuilah bahwa pintu kelezatan telah tertutup."
Allah Ta'ala berfirman artinya:
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. (QS ar-Ra'du [13]: 28)
Berkata asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa'di رحمه الله, "Selayaknya dan sudah menjadi keharusan bahwa hati tidak akan tenang kecuali hanya dengan dzikir. Tidak ada yang lebih lezat lagi manis bagi hati daripada kecintaan dan ma'rifat kepada penciptanya. Maka, sesuai dengan kadar kecintaan dan ma'rifatnya, ia akan selalu ingat kepada Allah, ini menurut pendapat yang mengatakan bahwa dzikrullah

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : [Bagi Yang Sedang Galau] 5 Cara Menghilangkan Perasaan Galau

0 komentar:

Posting Komentar