Galau merupakan perasaan tidak tenang di dalam hati dan pikiran manusia, perasaan
tidak tenang ini bisa disebabkan
oleh msalah
tertentu misalnya ketegangan
saat harus menghadapi sesuatu dan beban pikiran, ketika seseorang memiliki
masalah tersebut biasanya akan berujung pada kegalauan. ketika seseorang harus
menghadapi sesuatu yang baru / ia belum siap, biasanya pikiran akan dipenuhi dengan rencana-rencana dan pertimbangan antara kesuksesan dan
kegagalan, sehingga
persaan akan dihantui oleh ketakutan akan kegagalan., Hal ini yang menyebabkan perasaan gelisah
dan pikiran tidak tenang sehingga menyebabkan
kegalauan. Beban pikiran, ketika seseorang didalam
pikirannya dibebani masalah-masalah
yang belum terpecahkan, maka disitu akan timbul kekawatiran yang menyebabkan
perasaannya akan menjadi gelisah sehingga menyebabkan
kegalauan yang bisa juga dibilang stress.
Pada artikel kali ini akan diampaikan cara sebagian
kecil dari sekian cara
dan kiat agar hidup kita tenang dan tidak galau sepanjang hari. Yang disalin dari (e-book
ibnumajah.com oleh Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman حفظه الله ) Di
antaranya:
Pertama: Membaca al-Qur'an dengan Tadabur
Hikmah
diturunkannya al-Qur'an agar manusia dapat merenungi ayat-ayatnya serta
mengambil pelajaran darinya. Allah رحمه
الله berfirman
:
“Ini adalah
sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka
memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang
mempunyai pikiran”. (QS Shad [38]: 29)
[baca juga :
[baca juga :
Ketahuilah, al-Qur'an adalah
petunjuk kebaikan bagi kehidupan manusia. Jika kita menginginkan hati yang
terang, bening sebening kaca, dan jiwa yang bersih maka jangan mencari obat ke
mana-mana. Al-Qur'an adalah solusinya. Allah عزّوجلّ berfirman yang artinya:
"Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada
(jalan) yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin
yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. (QS
al-Isra' [17]: 9)
Ketenteraman adalah dengan membaca
al-Qur'an, merenungi maknanya, bukan dengan mendengarkan lagu-lagu dan
semisalnya. Perhatikan firman Allah عزّوجلّ berikut yang artinya:
“Yaitu
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS al-Ra'd [13]: 28)
Al-Imam Ibn al-Qayyim رحمه
الله mengatakan, "Hati tidak akan tenang
kecuali dengan iman dan keyakinan. Tidak ada jalan untuk menggapai iman dan
keyakinan kecuali dengan al-Qur'an. Karena tenang dan tenteramnya hati termasuk
keyakinannya terhadap al-Qur'an. Dan guncangnya hati pertanda keraguannya.
Dengan al-Qur'an dapat tergapai keyakinan dan tertolak keraguan, sangkaan, dan
kebimbangan. Maka tidak akan tenang hati seorang muslim kecuali dengan
al-Qur'an."
Maka mulai detik ini, renungi dan
pahamilah al-Qur'an, kaji lebih dalam lagi jangan engkau berpaling darinya,
karena Allah عزّوجلّ berfirman yang artinya:
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka
sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya
pada Hari Kiamat dalam keadaan buta”. (QS Thaha [20]: 124)
Kedua: Shalat Tahajud
Shalat Tahajud
adalah shalat yang dikerjakan pada malam hari setelah sebelumnya tidur terlebih
dahulu.
Al-Imam as-Safarini
رحمه الله
mengatakan, "Orang yang shalat Tahajud adalah orang yang shalat di waktu
malam. Para ulama kita mengatakan, 'Shalat Tahajud itu tidak dikerjakan kecuali
setelah tidur terlebih dahulu. Sedangkan shalat malam lebih umum, waktunya
sejak tenggelamnya matahari dan terbitnya fajar. la adalah shalat sunnah yang
sangat dianjurkan.'"
Allah عزّوجلّ sering memuji para hamba yang shalih karena mereka mengerjakan
shalat Malam dan Tahajud. Allah
عزّوجلّ
berfirman yang mana artinya:
"Mereka
sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu
pagi sebelum fajar”.
(QS adz-Dzariyat [51]: 17-18)
Sahabat yang mulia Ibn Abbas رضي
الله عنهما mengatakan, "Waktu malam tidak
berlalu begitu saja bagi mereka, melainkan mereka selalu mengerjakan shalat
Malam walaupun hanya sedikit."
Allah عزّوجلّ juga memuji orang yang mengerjakan shalat Malam dalam firman-Nya:
“Lambung
mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdo'a kepada Rabb-nya
dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang
Kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang
indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS as-Sajdah [32]:
16-17)
Al-Imam Ibn Katsir رحمه
الله berkata, "Yaitu mereka mengerjakan
shalat malam, meninggalkan tidur, dan meninggalkan berbaring di atas kasur yang
empuk."
Anas ibn Malik رضي
الله عنه berkata,
"Sungguh seorang tidak dapat mengerjakan shalat Malam dan puasa di siang
hari karena sebab berbohong yang dia kerjakan."
Ketahuilah, shalat
malam yang dikerjakan dengan khusyuk, menyendiri, dan memaknai kandungan bacaan
al-Qur'an dan do'a yang dibaca akan membawa ketenangan hati, perasaan tenteram,
dan jiwa yang baik. Permasalahan dunia yang sulit akan
terasa ringan jika kita mengerjakan shalat. Karena shalat adalah penghibur dan
penyejuk hati. Rasulullah
صلى الله عليه
وسلم bersabda:
"Bangkitlah, hai Bilal,
hiburlah kami dengan shalat."
Bahkan, Nabi صلى
الله عليه وسلم setiap kali dirundung masalah, beliau
melaksanakan shalat. Sahabat yang mulia Hudzaifah رضي
الله عنه berkata:
"Adalah Nabi صلى
الله عليه وسلم apabila dirundung masalah maka beliau
mengerjakan shalat."
Hal itu tiada lain karena shalat
adalah komunikasi antara hamba dengan Rabbnya. Berdiri di hadapan Allah dengan
shalat memiliki pengaruh kuat dalam memperbaiki jiwa orang yang shalat bahkan
seluruh manusia. Karena, shalat adalah penyejuk mata. Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda:
"Telah dijadikan kesejukan
mataku di dalam shalat."
Al-Imam Ibn al-Qayyim رحمه
الله berkata, "Ketahuilah, tidak ada
keraguan bahwa shalat adalah penyejuk mata orang-orang yang tercinta, kelezatan
jiwa-jiwa orang yang bertauhid, tamannya orang-orang yang beribadah, kelezatan
hati orang yang khusyuk. la adalah rahmat Allah yang dihadiahkan kepada
hamba-Nya yang beriman."
Beliau juga berkata,
"Sesungguhnya shalat itu bisa menghapus kejelekan bagi orang yang
menunaikan hak-hak shalat, dia menyempurnakan kekhusyukan shalat. Dia berdiri
di hadapan Allah dengan hati yang hadir dan berpikir. Orang yang semacam ini
jika selesai shalat akan menjumpai keringanan dalam shalat, menjumpai semangat
dan kelapangan hati setelah shalat."
Ketiga: Berteman
dengan Teman yang Shalih
Allah memerintahkan kepada kita
untuk bersama-sama orang yang baik dan shalih. Allah عزّوجلّ berfirman yang artinya:
“Hai
orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama
orang-orang yang benar.”
(QS at-Taubah [9]: 119)
“Teman-teman
akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali
orang-orang yang ber-taqwa”.
(QS az-Zukhruf [43]: 67)
Teman punya pengaruh yang sangat
kuat dalam membentuk kepribadian, sifat dalam diri seorang muslim. Sebab itu,
tidak mengherankan bila Rasulullah صلى
الله عليه وسلم sudah memberikan peringatan sejak
jauh-jauh hari agar berteman dengan teman yang baik dan menjauhi teman yang
jelek. Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Permisalan teman yang shalih
dan teman yang jelek, bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual
minyak wangi, bisa jadi dia akan memberikan minyak wanginya, atau engkau
membeli darinya atau engkau mendapatkan wanginya. Adapun pandai besi, dia bisa
membakar bajumu atau engkau mendapati baunya yang tidak enak."
Al-Imam Ibn al-Mubarak
رحمه الله mengatakan,
"Wajib bagi orang yang berakal untuk tidak meremehkan tiga golongan:
ulama, para pemimpin, dan teman-teman. Karena, sesungguhnya orang yang
meremehkan ulama akan hilang akhiratnya, barangsiapa yang meremehkan pemimpin
akan hilang dunianya, dan barangsiapa yang meremehkan teman-teman maka akan
hilang wibawa dan kehormatannya."
Keempat: P u a s a
Puasa akan menjernihkan hati dan
pikiran. Ini termasuk hikmah yang jarang diketahui manusia. Dengan meninggalkan
berbagai kenikmatan dan keinginan jiwa ketika berpuasa, akan membuat pikiran
dan hati menjadi jernih dan bersih. Hati dan pikirannya akan terpusat untuk
dzikir dan beribadah. Karena, banyak makan dan minum akan membuat hati menjadi
lalai dan sibuk, bahkan tidak mustahil membuat hati menjadi keras dan gersang.
Ibrahim ibn Adham berkata,
"Barangsiapa yang mampu menahan perutnya, maka dia akan mampu menjaga
agamanya. Barangsiapa yang dapat menguasai rasa lapar, dia akan meraih akhlak
yang mulia. Karena, maksiat kepada Allah sangat jauh bagi orang yang lapar dan
sangat dekat bagi yang kenyang. Kenyang itu dapat mematikan hati, karena
kenyang dia akan banyak senang, gembira, dan tertawa."
Puasa yang hakiki
adalah puasa yang mencegah pelakunya dari perbuatan maksiat, mencegah akal
sehat dari kungkungan hawa nafsu. Jika semua ini
dilakukan, maka sangat dipastikan orang yang berpuasa hidupnya akan tenang,
tidak gundah gulana, karena kemaksiatan tidak membawa pelakunya kecuali
kebingungan, keterikatan hati dan lain sebagainya.
Al-Hafizh Ibn al-Qayyim
al-Jauziyyah رحمه
الله berkata, "Orang berpuasa yang
sebenarnya adalah orang yang menahan anggota badannya dari segala dosa,
lisannya dari dusta, perutnya dari makanan, minuman, dan farjinya dari jimak.
Bila berbicara, dia tidak
mengeluarkan perkataan yang menodai puasanya. Jika berbuat, dia tidak melakukan
hal yang dapat merusak puasanya. Sehingga ucapannya yang keluar adalah
bermanfaat dan balk. Demikian pula amal perbuatannya, ibarat wewangian yang dicium
baunya oleh kawan duduknya. Seperti itu juga orang yang puasa, kawan duduknya
mengambil manfaat dan merasa aman dari kedustaan, kemaksiatan, dan
kezalimannya. Inilah hakikat puasa sebenarnya, bukan hanya sekadar menahan diri
dari makanan dan minuman."
Ibn al-Jauzi رحمه الله berkata, "Ketahuilah wahai saudaraku
dan orang yang mau menerima nasihatku, bahwasanya dosa itu punya pengaruh yang
jelek, rasa pahitnya melebihi rasa manisnya dengan berlipat-lipat."
Puasa Ramadhan termasuk salah satu
rukun Islam. Secara umum, tujuan disyari'atkannya puasa adalah agar seseorang
menjadi hamba yang bertaqwa. Allah عزّوجلّ menegaskan:
"Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS al-Baqarah [2]: 183)
Kelima: Dzikrullah
Dzikir bagi hati
ibarat air bagi ikan, maka bagaimanakah keadaan ikan jika dipisahkan dari air?
Dzikir dapat
membersihkan jiwa dari kelalaian dan kealpaan, obat
dari kerasnya hati. Suatu ketika, ada yang mengadu kepada al-Imam al-Hasan
al-Bashri رحمه الله, "Wahai Abu Sa'id, hatiku keras, bagaimana obatnya?"
Beliau menjawab, "Obatilah dengan berdzikir!"
Pada kesempatan
yang lain, al-Imam al-Hasan al-Bashri رحمه الله
pernah mengatakan, "Carilah kelezatan dalam tiga perkara: di dalam shalat,
dzikir, dan membaca al-Qur'an. Jika kalian mendapati
... Jika tidak maka ketahuilah bahwa pintu kelezatan telah tertutup."
Allah Ta'ala berfirman artinya:
“Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”. (QS ar-Ra'du [13]: 28)
Berkata asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa'di رحمه الله, "Selayaknya dan sudah menjadi keharusan
bahwa hati tidak akan tenang kecuali hanya dengan dzikir. Tidak ada yang lebih
lezat lagi manis bagi hati daripada kecintaan dan ma'rifat kepada penciptanya.
Maka, sesuai dengan kadar kecintaan dan ma'rifatnya, ia akan selalu ingat
kepada Allah, ini menurut pendapat yang mengatakan bahwa dzikrullah

0 komentar:
Posting Komentar